Unduh file penting dari RSJ Grhasia dengan mudah dan cepat.
Penulis : Sri Suyatmi, S.Kep. Ns. M.Kep
Ekspresi emosi yang tak wajar dan penyimpangan yang sangat dasar merupakan tanda gangguan jiwa . Perilaku kekerasan merupakan respon terhadap stessor yang di hadapi seseorang yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Penanganan yang cepat dan tepat diperlukan antara lain menggunakan fiksasi kimia pada dengan obat antipsikotik. Study kasus ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas fiksasi kimia terhadap tingkat perilaku kekerasan dengan menggunakan skala courtessy of pshychiatric of nursing pada pasien gangguan jiwa. Penelitian ini yaitu laporan kasus ( case report ) dengan intervensi kolaborasi fiksasi kimia yang dilaksanakan dalam durasi 24 jam selama rawat inap. Hasil study kasus ini menunjukkan setelah dilakukan intervensi kolaborasi restrain kimia dalam durasi 24 jam selama rawat inap terdapat penurunan tingkat perilaku kekerasan dari skala 14 ( tinggi ) menjadi skala 4 ( sedang ). Kesimpulan : restrain kimia mengurangi perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa.
Penulis : dr. Wikan Ardiningrum, M.Sc, Sp.KJ, (K)
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, aktivitas, dan pikiran seseorang. Gangguan ini ditandai dengan episode hipomanik, manik, dan depresi. Tujuan peringatan Hari Bipolar Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran global, menghilangkan stigma sosial, dan memberikan edukasi tentang bipolar, yang memengaruhi hampir 40-45 juta orang di seluruh dunia.
Penulis : Sadarwati, S.Kep. Ners
Gangguan jiwa tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga dapat muncul pada usia anak-anak dan remaja. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% gangguan jiwa dimulai sebelum usia 14 tahun, dan 75% berkembang sebelum usia 24 tahun (Kessler et al., 2005).Gangguan jiwa tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga dapat muncul pada usia anak-anak dan remaja. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% gangguan jiwa dimulai sebelum usia 14 tahun, dan 75% berkembang sebelum usia 24 tahun (Kessler et al., 2005).
Penulis : dr. Wikan Ardiningrum, M.Sc, Sp.KJ, (K)
Hidup lansia yang berkualitas merupakan tujuan dari perawatan lansia. Meskipun lansia mengalami perubahan kondisi fisiologis akibat penuaan, sakit kronis, kehilangan orang terdekat, kesepian, gangguan mental atau perubahan kondisi lainnya; akan tetap ada yang bisa diusahakan supaya hidup mereka tetap berkualitas.
Hidup berkualitas adalah kondisi sejahtera lahir dan batin yang ditandai dengan keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, hubungan sosial yang bermakna, serta kepuasan batin dan makna hidup. Hidup berkualitas bukan sekadar tentang kekayaan materi, melainkan persepsi individu atas pencapaian tujuan, harapan, dan standar hidup seorang individu.