Siap Hadapi Bencana, RS Grhasia Gelar Workshop Simulasi Penanggulangan Bencana

28 April 2026

Sleman — Komitmen dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana terus diperkuat oleh RS Grhasia melalui penyelenggaraan Workshop Simulasi Penanggulangan Bencana pada 27–28 April 2026 di Gedung Diklat Lantai 1. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta dari berbagai unit kerja sebagai bagian dari upaya membangun respons cepat dan terkoordinasi saat kondisi darurat terjadi.

Workshop secara resmi dibuka oleh Direktur RS Grhasia yang dalam sambutannya menegaskan peran strategis rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan penyangga dalam penanganan bencana, khususnya erupsi Gunung Merapi. Dalam kondisi tersebut, RS Grhasia memiliki mandat untuk tetap memberikan pelayanan dan tidak melakukan evakuasi, sehingga kesiapan internal menjadi kunci utama.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti dengan serius, memahami alur penanganan bencana, serta mampu mengimplementasikan dan menularkan ilmu yang didapat kepada rekan kerja lainnya,” tegas Direktur.

Sebagai bentuk kesiapan, manajemen rumah sakit telah menetapkan berbagai kebijakan, termasuk optimalisasi sarana dan prasarana seperti pemanfaatan area parkir sebagai lokasi rumah sakit lapangan apabila terjadi mass casualty incident (MCI). Selain itu, workshop simulasi bencana juga telah menjadi agenda rutin tahunan.

Kegiatan workshop menghadirkan narasumber dari internal RS Grhasia serta akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan materi terkait kebijakan Hospital Disaster Plan (HDP), pedoman K3, serta konsep penanggulangan krisis darurat dan tata laksana MCI. Materi juga dilengkapi dengan penyusunan skenario simulasi aktivasi dan deaktivasi HDP sebagai persiapan praktik lapangan.

Memasuki hari kedua, suasana semakin dinamis dengan pembahasan identifikasi bencana internal dan eksternal serta regulasi kebencanaan. Peserta kemudian mengikuti simulasi multi hazard (Code Grey) yang diawali dengan latihan di kelas sebelum diterapkan dalam simulasi nyata.

Puncak kegiatan berlangsung di Ruang Nakula, Sadewa, dan Arimbi, di mana peserta terlibat langsung dalam simulasi penanggulangan bencana. Dengan penuh antusias, peserta mempraktikkan peran masing-masing sesuai skenario yang telah disusun. Simulasi berlangsung lancar dan memberikan gambaran nyata penanganan kondisi darurat di rumah sakit.

Sebagai penutup, dilakukan sesi debriefing oleh para narasumber untuk mengevaluasi jalannya simulasi sekaligus memperkuat pemahaman peserta.

Workshop ditutup oleh Wakil Direktur Pelayanan, dr. Tri Sunu Handayani, yang menyampaikan apresiasi atas semangat dan partisipasi aktif seluruh peserta.

“Harapannya, seluruh ilmu yang diperoleh tidak berhenti di sini, tetapi benar-benar diterapkan sehingga RS Grhasia semakin siap, tangguh, dan sigap dalam menghadapi berbagai potensi bencana,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, RS Grhasia menegaskan komitmennya dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang terstruktur, responsif, dan berkelanjutan demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dalam situasi apa pun. (Ami Tursina/Humas)