Unduh karya tulis di RSJ Grhasia
Penulis : Ns. Sadarwati, M.Kep. Sp.Kep.J
Pendahuluan: Tangguh Bukan Berarti Kebal
Semua orang pernah merasa lelah, sedih, atau kewalahan oleh tekanan hidup: kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, kegagalan di sekolah, penyakit, atau kehilangan orang tercinta. Perasaan itu manusiawi. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan siapa yang punya bekal untuk bangkit, dan siapa yang tahu kapan harus meminta tolong.
Itulah inti dari menjadi pribadi yang tangguh (dalam ilmu psikologi disebut resiliensi). Tangguh bukan berarti selalu kuat, tidak pernah menangis, atau memendam semuanya sendiri. Tangguh berarti mampu menyesuaikan diri, mencari dukungan, dan pulih setelah menghadapi tekanan. Kabar baiknya, ketangguhan adalah keterampilan yang bisa dilatih oleh siapa saja, bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki sebagian orang.
Penulis :
Aril Halida, M.Psi., Psikolog - RSJ Grhasia DIY
Agni Aflikhiya Sari, M.Psi., Psikolog - RS PKU Muhammadiyah Kotagede
Artificial Intelligence (AI), khususnya chatbot berbasis Large Language Model (LLM), semakin sering dimanfaatkan masyarakat sebagai media bertanya untuk mendapatkan informasi tertentu, bercerita, bahkan tidak jarang dimanfaatkan sebagai tempat mencurahkan isi pikiran dan perasaan. Hal yang menarik adalah kemampuan chatbot tersebut dalam merespons cenderung cepat, penggunaan kata yang mudah dipahami, dan istimewanya, dapat diakses 24 jam. Selain itu, fitur AI dengan prinsip user-engagement di mana pengguna yang terlibat aktif dan konsisten menjadikan pengguna akan terus setia dan lanjut menggunakan AI (2). Faktor-faktor inilah yang membuat banyak penggunanya merasa nyaman saat berbincang dengan AI.
Penulis : Nurfaozin, S.Kep.,Ners.
Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Pada masa remaja, berbagai perubahan dan tuntutan kehidupan dapat membuat anak muda lebih rentan mengalami masalah psikologis.
WHO memperkirakan sekitar satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan mental. Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku menjadi beberapa masalah kesehatan mental yang penting pada kelompok usia tersebut (World Health Organization, 2025).
Penulis : ARWANTO, SST, Ners
Penyalahgunaan zat psikoaktif merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, dan sosial seseorang. Salah satu zat yang banyak disalahgunakan adalah sabu-sabu atau metamfetamin (methamphetamine). Metamfetamin merupakan stimulan sistem saraf pusat yang dapat menimbulkan rasa percaya diri, peningkatan energi, kewaspadaan, dan berkurangnya rasa lelah. Namun, penggunaan secara berulang atau dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan serta berbagai gangguan kesehatan
Penulis : Yakobus Nursetiyawan, SST
Kegiatan pembangunan, renovasi, pemeliharaan, dan pekerjaan konstruksi di lingkungan rumah sakit memiliki potensi risiko terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja, pasien, pengunjung, maupun petugas rumah sakit. Aktivitas konstruksi dapat menimbulkan berbagai bahaya, antara lain jatuh dari ketinggian, tertimpa material, paparan debu dan kebisingan, bahaya listrik, penggunaan peralatan kerja, kebakaran, serta gangguan terhadap akses dan pelayanan rumah sakit.
Penulis : Dra. Istinganah, Apt., M.Kes
Pernahkah mendengar seseorang berkata bahwa dirinya merasa lebih baik setelah minum obat, padahal ternyata obat tersebut hanyalah tablet kosong tanpa kandungan zat aktif obat? Atau ada pasien yang merasa nyerinya berkurang setelah disuntik cairan NaCl 0,9% (garam fisiologis) karena ia yakin sedang menerima terapi yang ampuh? Fenomena tersebut dikenal sebagai efek placebo.
Penulis : DianingtyasAgustin,S.Kep.Ns
Secarapsikologis,sampahbatin(seringdisebutsebagaiemotionalbaggage,emotional clutter,atauresidu emosional) didefinisikan sebagai kumpulan emosi negatif, luka mental, kekecewaan, ketakutan, dan akumulasistresterpendamyangtidakdiolahataudisalurkandenganbaik.
Penulis : Arwanto, S.ST.Ns
Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) merupakan masalah kesehatan yang berdampak pada kondisi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi seseorang. Proses pemulihan dari ketergantungan NAPZA bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan waktu, komitmen, serta dukungan dari berbagai pihak. Selain tenaga kesehatan dan konselor, keluarga merupakan salah satu faktor terpenting yang memengaruhi keberhasilan rehabilitasi. Keluarga adalah lingkungan pertama tempat seseorang memperoleh kasih sayang, dukungan, dan pembentukan perilaku. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dapat meningkatkan motivasi, memperkuat ketahanan individu dalam menghadapi tantangan selama pemulihan, serta mengurangi risiko kekambuhan (relapse).
Penulis : Dian Pangestuti, ST
Instalasi Gizi Rumah Sakit memiliki peran strategis dalam menyediakan makanan yang aman, bergizi, dan sesuai kebutuhan pasien. Berbeda dengan penyelenggaraan makanan pada masyarakat umum, makanan rumah sakit dikonsumsi oleh pasien yang sebagian besar memiliki kondisi kesehatan yang rentan terhadap infeksi, seperti pasien dengan penyakit kronis, lansia, maupun pasien dengan gangguan sistem imun. Oleh karena itu, keamanan pangan menjadi salah satu komponen penting dalam upaya pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan (Healthcare-Associated Infections/HAIs). Salah satu faktor yang dapat memengaruhi keamanan pangan adalah kondisi kesehatan penjamah pangan. Penjamah pangan yang menjadi pembawa (carrier) bakteri enterik patogen tanpa gejala berpotensi mencemari makanan selama proses pengolahan dan penyajian. Pemeriksaan rektal swab merupakan salah satu metode laboratorium yang dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan bakteri enterik patogen pada saluran cerna. Artikel ini membahas pentingnya pemeriksaan rektal swab bagi penjamah pangan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY. Manfaat, keterbatasan, serta implementasinya sebagai bagian dari sistem higiene sanitasi dan pengendalian infeksi.