Deteksi Kesehatan Jiwa!

  Pengen tahu Satus Kesehatan Jiwa Anda...?

Aplikasi deteksi dini kesehatan jiwa tersedia dalam aplikasi android dan web

 

 enter button

 

 

play-store-download

x

 

×

Peringatan

JFTP: :connect: Tidak dapat menghubungi host ' 127.0.0.1 ' di port ' 21 '

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN JIWA

grhasia-pakemDalam sejarah evolusi keperawatan jiwa, kita mengenal beberapa teori dan model keperawatan yang menjadi core keperawatan jiwa, yang terbagi dalam beberapa periode. Pada awalnya perawatan pasien dengan gangguan jiwa tidak dilakukan oleh petugas kesehatan (Custodial Care) (tidak oleh tenaga kesehatan). Perawatan bersifat isolasi dan penjagaan. Mereka ditempatkan dalam suatu tempat khusus, yang kemudian berkembang menjadi Primary Consistend of Custodial Care.

Baru sekitar tahun 1945-an fokus perawatan terletak pada penyakit, yaitu model kuratif (model Curative Care). Perawatan pasien jiwa difokuskan pada pemberian pengobatan. Baru tahun 1950 fokus perawatannya mulai befokus pada klien, anggota keluarga tidak dianggap sebagai bagian dari tim perawatan. Obat-obat psychotropic menggantikan Restrains dan seklusi (pemisahan). Deinstitutionalization dimulai, mereka bukan partisipan aktif dalam perawatan dan pengobatan kesehatan mereka sendiri. Hubungan yang terapetik mulai diterpakan dan ditekankan. Fokus utama pada preventiv primer. Perawatan kesehatan jiwa diberikan di rumah sakit jiwa yang besar (swasta atau pemerintah) yang biasanya terletak jauh dari daerah pemukiman padat.

Sekitar dekade berikutnya, pada saat terjadi Pergerakan Hak-Hak Sipil (The Civil Rights) di 1960-an, penderita gangguan jiwa mulai mendapatkan hak-haknya. The Community Mental Health Centers Act (1963) secara dramatis mempengaruhi pemberian pelayanan kesehatan jiwa. Undang-Undang inilah yang menyebabkan fokus dan pendanaan perawatan beralih dari rumah sakit jiwa yang besar ke pusat-pusat kesehatan jiwa masyarakat yang mulai banyak didirikan.

 

Pada tahun 1970-1980, perawatan beralih dari perawatan rumah sakit jangka panjang ke lama rawat yang lebih singkat. Fokus perawatan bergeser ke arah community based care / service (Pengobatan berbasis komunitas). Pada tahun-tahun ini banyak dilakukan riset dan perkembangan teknologi yang pesat. Populasi klien di rumah sakit jiwa yang besar berkurang, sehingga banyak rumah sakit yang ditutup. Pusat-pusat kesehatan komunitas jiwa sering tidak mampu menyediakan layanan akibat bertambahnya jumlah klien. Tunawisma menjadi masalah bagi penderita penyakit mental kronik persisten yang mengalami kekurangan sumber daya keluarga dan dukungan sosial yang adekuat.

Selengkapnya: SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN JIWA

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BAGI PERAWAT

PERAWATNRefleksi

Silahkan saudara-saudaraku perawat. .mari kita renungkan kembali, dalam 2-3 tahun terakhir ini pelatihan atau seminar keperawatan apa yang telah kita ikuti… dan renungkanlah adakah manfaat dari pelatihan-pelatihan tersebut dalam saudara-saudara menjalankan tugas sebagai seorang perawat…. Ataukah pelatihan tersebut hanya senilai dengan selembar sertifikat saja..??

Ketika seseorang memasuki pedidikan perawat, ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Mulai dari karena memenuhi keinginanan orang tua, ikut-ikutan teman dan agar cepat mendapat pekerjaan. Akan tetapi sangat sedikit orang mau menjalani pekerjaan sebagai seorang perawat Karena panggilan jiwa untuk membantu orang yang sakit dengan menerapkan ilmu keperawatan. Mungkin hal tersebutlah yang menjadi penyebab ketika orang tersebut benar-benar menjadi seorang perawat maka orang tersebut akan menjalani profesi perawat, maka orang tersebut menjalaninya dengan apa adanya tanpa ada gambaran bagaimana jenjangkarirnya, bagaimana untuk meningkatkan kemampuan diri, untuk pendidikan berkelanjutan dan lain sebagainya.

Ketika orang tersebut menjalankan profesinya, maka ia akan menjalankannya hanyarutinitas belaka, dan kemungkinan ia akan merasacukup nyaman menjalaninya karena tidak ada tuntutan yang harus dipenuhi untuk menjalankan profesinya. Bahkan yang lebih parah lagi adalah ketika bekerja, akan dianggaphanya untukmemenuhi kewajiban sebagai seorang pegawai yang mendapatkan gaji. Tanpa memikirkan bagaimana untuk pengembangan diri dan profesinya.

 

Masih ingatkan apa itu profesionalisme?

Dalam UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 27 ayat 2 disebutkan bahwa :

“Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki”

Dari pasal tersebut sudah sangat jelas bahwa perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan , wajib untuk meningkatkan dan mengembangkan diri. Sudahkah kita melakukannya?

Selengkapnya: PENGEMBANGAN KEPROFESIAN  BERKELANJUTAN BAGI PERAWAT