RSJ Grhasia Gelar Sosialisasi Kesehatan Jiwa Anak, Tekankan Pentingnya Deteksi Dini dan Pola Asuh Sehat

19 Agustus 2025

Sleman, 19 Agustus 2025 – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Sosialisasi Kesehatan Jiwa Anak yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2025 di Gedung Diklat RSJ Grhasia. Kegiatan ini menyasar guru TK, guru SD, serta orang tua murid dengan total peserta sebanyak 135 orang.

Direktur RSJ Grhasia dalam sambutannya menyampaikan bahwa masa anak merupakan fase kritis dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia, sehingga kesehatan jiwa anak harus menjadi perhatian utama. “Gangguan psikologis pada anak seringkali tidak terdeteksi sejak dini. Melalui sosialisasi ini, kami berharap guru dan orang tua dapat lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan serta memahami cara pengasuhan yang sehat,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dalam tiga sesi, dengan narasumber dari tim medis dan psikolog RSJ Grhasia. Materi yang disampaikan meliputi deteksi dini problematika kesehatan jiwa pada anak oleh dr. Budi Kristanto, M.Sc., Sp.KJ (Psikiater Subspesialis Anak & Remaja), pengasuhan yang mendukung kesehatan mental anak oleh Evi Dwi Setyaningsih, M.Psi., Psi (Psikolog Klinis), serta pengenalan layanan tumbuh kembang anak terpadu oleh dr. Rista Ria Febriani, Sp.A.

Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti hospital tour di layanan tumbuh kembang anak terpadu RSJ Grhasia. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan layanan kesehatan anak yang tersedia sekaligus mengurangi stigma terhadap perawatan kesehatan jiwa.

Data dari Dinas Kesehatan DIY menunjukkan masih banyak anak yang menghadapi masalah kesehatan mental, termasuk gangguan kecemasan, ADHD, dan autisme. Pada tahun 2024, tercatat 907 kunjungan pasien anak dan remaja di klinik jiwa RSJ Grhasia, dengan kasus terbanyak berupa gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (21,77%) dan autism spectrum disorder (17,68%).

Dengan adanya sosialisasi ini, RSJ Grhasia berharap pengetahuan para guru dan orang tua meningkat dalam memahami kesehatan jiwa anak, sehingga stigma terhadap gangguan mental dapat berkurang dan anak-anak bisa tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun psikologis.