Saatnya Berubah Ditengah pandemi Covid-19

images

Berita mengenai Covid-19 yang mulai muncul kurang lebih tiga bulan ini, seolah menyita perhatian, energi, dan mungkin kesehatan jiwa raga, setidaknya buat saya. Ditambah lagi, akses informasi begitu mudah dan cepat kita dapat, bahkan seolah tanpa penyaring. Saya jadi sulit membedakan, apakah berita tersebut hoax atau memang bisa dipertanggungjawabkan. 

Stress. Cemas. Khawatir. Tentu saya alami. 

Terlebih manakala kita tetap harus beraktivitas diluar rumah untuk bekerja. 

Makin tidak karuan manakala kita akan selalu terkoneksi dengan orang lain, yang kita tidak tahu riwayat koneksi mereka sebelum bertemu kita. 

Dan, efeknya, tubuh saya menyampaikan alarm, merasa ada yang salah dengan pikiran saya yang berimbas pada kualitas kesehatan fisik. Stres psikologis memicu ketidaknyamanan fisik, bahkan mungkin bisa saja menurunkan imunitas. 

Saatnya berubah, setidaknya itu dimulai dari cara berpikir saya. 

Informasi tentang covid-19, mulai dari penularan, gejala, dan cara pencegahannya coba saya dapatkan dengan membaca dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, termasuk bertanya pada teman-teman dokter di tempat kerja. Setidaknya, secara wawasan, aspek tersebut telah saya peroleh. 

Pilah berita. Anggap bahwa berita itu semacam stimulus yang bersifat netral dan semua respon tergantung bagaimana persepsi kita. Mulai biasakan untuk olah pikir sehingga olah rasa pun akan mengikuti.

Senantiasa mengenakan masker setiap beraktivitas diluar rumah. 

Satu kebiasaan baru ini mungkin sebagian orang sudah disiplin dalam menjalankan. Namun, tentu beberapa kali kita masih menemui mereka yang abai terhadap pentingnya mengenakan masker. Ada pula yang mengenakan masker, namun sebatas dikalungkan dileher sehingga tidak menutupiarea hidung dan mulut secara sempurna. Papasan dengan kelompok orang tak bermasker, refleks menimbulkan reaksi kesal luar biasa. Hingga muncul pikiran tidak adil, saya sudah pakai kok mereka tidak . Beberapa waktu yang lalu, pernah mengikuti seminar online, tentang bagaimana menjalani era new normal. Hal yang ingin saya sampaikan disini adalah mengenai masalah psikologis ketika muncul emosi negatif (misal marah, kesal) saat mengetahui masih ada individu yang tidak patuh pada protokol kesehatan. Wajar. Namun, ada yang baiknya kita pahami, yaitu terdapat hal atau situasi yang tidak dapat kita kontrol. Salah satunya, bagaimana orang lain berperilaku khususnya ditengah pandemi ini. Rasa marah atau kesal saat melihat masih ada yang tidak patuh segera alihkan pada diri kita. Pastikan kita patuh protokol kesehatan, itu saja.

Menjaga kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir secara tepat. Cuci tangan merupakan salah satu cara untuk meminimalisir paparan virus. Karena itu, penting kiranya bagi kita untuk melakukan tahapan demi tahapan dalam mencuci tangan secara tepat dan nikmati prosesnya. Gunakan waktu mencuci tangan tersebut untuk membersihkan dengan sungguh-sungguh, tidak buru-buru karena berpikir akan melakukan hal lain dengan segera. Tidak perlu menilai apakah berhasil hilangkan kuman di tubuh atau tidak. Selama dilakukan sesuai prosedur, maka dapat dikatakan cukup bersih.

Social and physical distancing tetap harus dilakukan, sesuai kondisi saya yang memang tetap harus beraktivitas diluar rumah. Mungkin ini bukan perkara mudah karena kita terbiasa berinteraksi dengan orang lain tanpa jarak khusus. Namun demikian, cara ini memang dibutuhkan untuk kita dapat saling menjaga diri maupun orang lain.

Tetap terhubung dengan keluarga atau teman. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tidak akan pernah terlepas dari orang lain. Namun, hal yang perlu kita sadari adalah apa yang kita obrolkan atau diskusikan dengan orang lain, sedikit banyak akan mempengaruhi aspek psikologis kita. Karena itu, mulailah untuk memilih topik maupun bahasa berkomunikasi yang positif untuk mempertahankan atmosfir positif.

Jaga kesehatan raga. Konsumsi sayur dan buah dengan rutin serta bilamana diperlukan dapat pula mengkonsumsi vitamin. Selain itu, biasakan untuk dapat istirahat yang berkualitas sebagai waktu bagi tubuh untuk memulihkan kondisi diri.  

Mengupayakan kesehatan jiwa.

Kelola kekhawatiran yang mungkin kita alami agar bermuara pada munculnya perilaku preventif yang lebih konstruktif. Dengan cara apa?Misalnya selektif memilih berita dan membangun keyakinan bahwa kita mampu keluar dari situasi ini. Belajar afirmasi. Terus, terus, dan terus. 

Dan, diatas segala upaya preventif yang kita lakukan, tetap meminta pada Sang Maha Pemberi. Kiranya, kita semua, senantiasa dikaruniai perlindungan dan kesehatan lahir batin.

Well, pandemi ini seolah menjadi pengingat. Bahwa Allah bisa dengan sangat mudah mengubah tatanan kehidupan. Namun bukan berarti tanpa solusi. Dan, itu yang semestinya dipahami dan diperjuangkan setiap individu dari belahan manapun. Saya pun belajar dari situasi ini, yakni tentang kesadaran, kepedulian, dan resiliensi. Semoga kita dimampukan selalu.

Stay safe, stay adaptive, and be responsible for your life and others.

By Admin| 26 Juni 2020| ARTIKEL | Dilihat = 72 kali|