IMPLEMENTASI PROGRAM PENDIDIKAN KELUARGA ODGJ (ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA)

images

Dianingtyas Agustin, Aspi Kristiati, Sutarjo

Tim Keswamas RSJ Grhasia DIY

Disampaikan dalam Konferensi Nasional Keperawatan Jiwa XII

Di Golden Tulip Hotel Pontianak 15 – 17 Oktober 2015

EDIT1

ABSTRAK

Besarnya permasalahan kesehatan jiwa salah satunya adalah kemampuan keluarga dalam kelolaan ODGJ. Stigma yang ada ditengah masyarakat, seperti penggunaan istilah lokal terhadap ODGJ ternyata mempengaruhi ketidaknyaman ODGJ. Sikap penolakan masyarakat terhadap ODGJ juga berdampak pada penurunan harga diri dan mengoyak martabat ODGJ. Kenyataan praktek pemasungan yang masih ditemukan di masyarakat menguatkan posisi ODGJ yang masih lemah di tengah masyarakat.

Program pendidikan caregiver merupakan salah satu pilihan dalam mengupayakan kembalinya harga diri dan martabat ODGJ. Program pendidikan keluarga ini didesain secara terstruktur dan serial untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan bagi keluarga tentang cara perawatan di rumah, dukungan sosial dan emosional, serta pemberdayaan. Kegiatan ini dibagi dalam tiga (3) tahapan yaitu 1)Tahap pra sesi, ; 2) Pembelajaran in class. 3) Monitoring dan evaluasi.Data diambil dengan metode kuantitatif pada prepost test, dianalisa dengan uji T dengan tingkat kepercayaan 95%, dan dilakukan indept interview / kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya kebermanfaatan pendidikan keluarga/caregiver terhadap ODGJ, adanya peningkatan kemampuan kognisi, afeksi dan konasi/psikomotor.

Pendidikan keluarga diperlukan untuk mengurangi tingginya beban psikologis, sosial dan ekonomi serta fisik bagi keluarga. Dengan demikian, ODGJ mendapat perhatian dan perlakuan yang manusiawi sehingga mendapatkan hak-haknya. Dalam pelaksanaan kegiatan, ada beberapa hal yang perlu disempunakan dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yakni pengambil kebijakan guna pendanaan dan kerjasama dengan pemberi pelayanan di tingkat primer.

Kata Kunci : Pendidikan keluarga, ODGJ, Pemberdayaan caregiver.

,

 Latar Belakang

Masalah kesehatan jiwa berkontribusi terhadap tingginya Dissability Adjusted Life Years (DALYs) atau hilangnya hari-hari produktif sebesar 8,1% dari Global Burden Desease. Study World Bank(2005) menunjukkan angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan beban yang diakibatkan oleh penyakit TBC (7,2%), kanker (5,8%), jantung (4,4%), dan malaria (2,6%). Angka ini mempunyai arti bahwa masalah kesehatan jiwa akan mempengaruhi derajat kesehatan secara umum.

Manifestasi gangguan jiwa berdampak pada kehidupan sosial penderita gangguan jiwa. Stigma yang ada ditengah masyarakat, seperti penggunaan istilah lokal bagi ODGJ ternyata mempengaruhiketidaknyaman ODGJ. Dari beberapa hasil Fokus Group Diskusi (FGD) yang dilakukan instalasi Keswamas RSJ Grhasia mendapatkan data stigma masyarakat yang masih kuat. Dicontohkan, adanyaungkapan atau istilah yang negatif dari anggota masyarakat terhadap ODGJ dalam bahasa daerah Jawa, seperti kurang sak ons, tidak genap, “koclok”, kenthir, pethok, solopok dan lain-lain. Kenyataan ini bermuara pada kondisi diskriminasi sosial yang dialami ODGJ. Contoh lain tentang persepsi masyarakat terhadap ODGJ, diungkapkan oleh seorang ibu yang menjadi care giver, sbb:

“Bagaimana saya tidak sedih, anak saya ODS yang sudah bekerja di laundry sering dikatakan-kowe (kamu) edan (gila) ya...lulusan pakem. Nanti sampai rumah dia nangis dan menolak untuk keluar rumah…apalagi kembali bekerja. Mereka kok tega ya…bu... (Ny M di RSJ Grhasia, 12 Februari 2015).

Sikap penolakan masyarakat terhadap ODGJ untuk bersosialisasi juga disampaikan keluarga ODGJ yang lain. Lebih lanjut diungkapkan bahwa dampak yang didapat dari penolakan adalah penurunan harga diri pasien dan mengoyak martabat ODGJ sebagai manusia (Data Laporan FGD Keswamas, 2015). Respon masyarakat terhadap perilaku ODGJ yang sedang kambuh mengakibatkan ODGJ mendapat perlakuan yang semena-mena, tidak manusiawi bahkan dari pihak keluarganya sendiri. Fakta lain yang memperburuk kesempatan ODGJ untuk membaik diungkapkan dari hasil penelitian Tyas (2012), menyatakankondisi pasien gangguan mental diperburuk oleh kebijakan pemerintah yang belum menuangkan secara eksplesit guna memberi perlindungan bagi ODGJ sehingga berdampak pada perlakukan yang tidak mengindahkan martabat manusia. Kenyataan praktek pemasungan salah satu bentuk abainya pemerintah dari perlindungan martabat ODGJ. Pemasungan yang masih ditemukan di masyarakat menguatkan posisi ODGJ yang masih lemah di tengah masyarakat. Hariminas dan Diatri (2012) dalam penelitiannnya mengemukakan bahwa pemasungan  justru diinisiasi dari masyarakat bukan keluarga. Dari beberapa fakta lapangan dan hasil penelitian menggambarkan perlunya mengembalikan martabat ODGJ sehingga pemulihan menjadi tujuan.

Pemulihan guna mengembalikan martabat ODGJ dapat dilakukan melalui berbagai cara namun prosesnya membutuhkan dukungan berbagai pihak, salah satunya keluarga. Peran keluarga yakni dalam 1) mengenal masalah;2) mengambil keputusan; 3)kemampuan merawat; 4) memodifikasi lingkungan; 5) memanfaatkan fasilitas kesehatan. Keluarga memainkan peran yang beragam dan penting dalam mengupayakan kesembuhan ODGJ. Peran yang optimal bisa diwujudkan sepanjang keluarga memiliki kapasitas yang mencukupi untuk memerankannya sesuai fungsi keluarga.

UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa sebenarnya telah menjawab kebutuhan tersebut dan dikuatkan pula oleh Peraturan Gubernur DIY No. 81 tahun 2014 yang menjelaskan tentang kebutuhan edukasi, informasi dan pelatihan bagi keluarga dalam rangka menyiapkan keluarga untuk menerima ODGJ pasca hospitalisasi.

Program pendidikan caregiver ODGJ menjadi salah satu program yang direalisasikan oleh Rumah Sakit Jiwa Grhasia Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka mendidik keluarga untuk mampu mengembalikan martabat anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Program pendidikan caregiver bertujuan untuk meningkatkan kapasitas caregiver dalam mendampingi ODGJ. Outputnya adalah keluarga atau pemberi perawatan di rumah mampu mengetahui tentang gangguan jiwa dan pengobatanya, cara mengatasi gejala, cara mengelola beban keluarga, mengelola stress, menghadapi stigma dan melakukan advokasi bagi ODGJ.

Kriteria inklusi peserta program ini adalah keluarga atau seseorang yang berperan sebagai pemberi perawatan atau caregiver langsung bagi ODGJ, tinggal serumah dengan ODGJ, pendidikan peserta minimal SMP, usia maksimal 55 tahun, memiliki komitmen dan kemauan mendampingi pasien yang diidentifikasi melalui wawancara serta bersedia mengikuti proses pembelajaran dari awal hingga akhir program yang dikuatkan dengan kontrak kesanggupan mengikuti pembelajaran secara tertulis.

Metodologi

EDIT3

Program pendidikan keluarga ini didesain secara terstruktur dan serial untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan bagi keluarga tentang cara perawatan di rumah, dukungan sosial dan emosional, serta pemberdayaan. Kegiatan ini akan dibagi dalam tiga (3) tahapan yaitu 1)Tahap pra sesi, ; 2) pelaksanaan pembelajaran in class. 3) supervisi / monitoring dan evaluasi.

Pada tahap pra sesi dilakukan pemetaan kebutuhan keluarga dalam hal pengetahuan dan ketrampilan mendampingi ODGJ. Pemetaan dilakukan dengan identifikasi jenis gangguan jiwa yang dialami masing-masing anggota keluarga peserta, identifikasi pengenalan program dan kontrak belajar secara tertulis.

edit2

Tahap pelaksanaan pembelajaran in class terdiri dari 6 (enam) sesi pertemuan yang diselenggarakan setiap 2 minggu sekali, terdiri dari 1)Sesi pertama mengenalkan gangguan jiwa dan proses penyakit, fungsi otak dan obat-obat antipsikotik.; 2) Sesi dua menjelaskan tentang pendampingan ODGJ dengan halusinasi, waham, risiko bunuh diri dan defisit perawatan diri. ; 3) Sesi ketiga membagi pengetahuan tentang penanganan krisis dan relaps. ; 4) Sesi keempat dan kelima menghadirkan psikolog untuk meningkatkan pengetahuan keluarga/caregiver tentang ketrampilan mendengarkan, komunikasi terapeutik, manajemen beban keluarga dan ketrampilan koping.; 5) Sesi enam merupakan sesi terakhir, mengupas tentang ungkapan rasa menghadapi stigma dan cara melakukan advokasi ODGJ. Untuk mengetahui gambaran peningkatan pengetahuan peserta maka setiap sesi pembelajaran dilakukan pre test dan post test.

Hasil kegiatan

Gambaran keberhasilan kegiatan pendidikan keluarga, dilihat dari data kuantitatif dan kualitatif sebelum dan sesudah kegiatan. Data kuantitatif pra pendidikan, pada umumnya menyatakan frustrasi dan mudah marah menghadapi ODGJ. Lebih lanjut didapatkan fakta dari hasil pemetaan, bahwa keluarga sebagai care giver merasa malu, kasihan, mudah tersinggung sehingga memunculkan konflik dalam keluarga dan masyarakat. Danpaknya keluarga merasa tidak sabar, “nglokro” dan bahkan terjadi penolakan terhadap ODGJ.

Pre dan post test dianalisa menggunakan Uji T, menunjukkan hasil rata-rata semua materi setiap sesi bermanfaat bagi keluarga pasien, dengan tingkat kepercayaan 95 %. Berdasar data tersebut maka sesungguhnya pendidikan keluarga memang dibutuhkan bagi keluarga. Hasil ini diperkuat dengan hasil wawancara mendalam dengan beberapa care giver sebagai peserta, keluarga peserta serta ODGJ sendiri.

Sebagian besar peserta menyatakan bahwa mereka merasa mendapat informasi yang sangat berguna dan dapat diterapkan saaat mereka merawat pasien di rumah. Peserta merasa lebih sabar dan mampu mengendalikan diri serta bisa memberikan pengetahuan kepada anggota keluarga yang lain. Peserta merespon setiap sesi diskusi dengan baik. Beberapa pertanyaan yang diajukan melengkapi materi yang dibutuhkan.

Salah satu peserta menyatakan secara spesifik bahwa peserta mampu mengendalikan kejengkelan saat ODGJ melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah care giver. Ayah sebagai care giver yang mengikuti program pendidikan menyatakan sebagai berikut:

sangat beda bu saya rasakan…saya dulu kadang sampai kepikiran ingin ngampleng (memukul) jika anak saya N (ODGJ) ngeyel, tidak mengikuti perintah dan merokok terus.Saya juga pernah sampai mau gelut (berkelahi) saat memaksa dia menghentikan perilaku yang aneh, seperti tidak tenang, gerakan yang membingungkan..mungkin itu halusinasi,, dan lain-lainnya. saya juga sampai marah, benar-benar marah saat dia tidak mau bangun pagi, malas-malasan dan seperti tidak ada upaya untuk berubah”

Hal senada juga disampaikan oleh istrinyasebagai ibu care giver:

Lha saya..rasanya sakit saat melihat anak saya berubah seperti itu (malas, jorok, sulit diarahkan dan mudah marah). Apalagi di kampus anak saya yang kedua..adiknya N sering diejek. dibilang..ki lho adine cah gemblung (salah satu sebutan untuk ODGJ), rada kurang,,,,Saya sakit sekali. Terus adiknya pulang, menangis. Adiknya semakin membenci kakaknya gara-gara kondisi ini. Namun setelah mas H (suami) mengikuti pelatihan di Grhasia saya jadi tahu, ngerti. Mas H sering menceritakan bagaimana pelajarannya di grhasia sangat bermanfaat termasuk ngopeni anak saya. Saya jadi merasa lebih sabar dan dari membaca buku dari grasia ada yang berisi caranyaz relaksasi dan itu saya praktekan..yah lumayan bisa membuat saya menjadi lega, sabar tidak mudah terpancing kata-kata teman-teman N yang menyakitkan. Bisa untuk menguatkan adiknya juga.”

Saat wawancara berlangsung, N dan adiknya juga hadir, Selama ini hubungan yang memburuk dinyatakan keluarga mulai membaik. Saat adik N diwawancara tentang alasan sikapnya kepada kakaknya, seperti dalam hasil wawancara:

yah.. malu saja saya punya kakak yang ngeyelan..terus seperti orang gak waras. Dulu dikasih tahu jangan berteman dengan anka-anak nakal gak percaya…sekolah disuruh tanggung jawab,,,gak mau. Tapi bapak memberitahu kalau saya harus maklum dengan kondisi dia. Ibu juga memberitahu untuk menerima karena dia perlu ditolong. Kata bapak..saya harus memperlakukan kakak saya seperti daam teori yang diterima di grasia. Saya disuruh baca..sebenarnya saya tahu teori ,,kuliah saya juga belajar hal-hal seperti itu..tapi saya marah pada kakak saya. Tetapi ayah saya terus mendorong untuk saya bersikap wajar saja pada kakak saya ..yah….lama-lama saya coba meskipun kadang saya masih jengkel tetapi ingat kata bapak..ibu kalau saya tidak boleh bersikap memusuhi.

Jawaban tersebut dilanjutkan dengan bapaknya:

Yah..memang harus terus berlatih komunikasi ..kami sekeluarga. Berlatih sabar dan mampu mengelola perasaan..agar semua tidak jadi sakit. Pengalaman di Grasia selalu saya tularkan setelah pulang ke rumah. Saya sampaiakn kepada istri saya..saya suruh baca materi-materi dari grasia..agar kami bisa praktekan bersama”

Dari ungkapan keluarga ODGJ dapat disimpulkan bahwa ternyata kegiatan pendidikan keluarga tidak hanya bermanfaat bagi peserta tetapi juga bagi anggota keluarga yang lain. Kegiatan ini juga mengubah afeksi dan konasi terutama pada ayah dan ibu pasien. Orang tua pasien bisa bersikap lebih menerima dan berupaya menyelesaikan gangguan ketidaknyamanannya melalui tindakan positif. Sehingga dimungkinkan pendidikan keluarga juga meningkatan ketrampilan koping. Harapan jangka panjang, perubahan sikap ini dapat menjadi dasar ODGJ semakin menjadi manusia seutuhnya sehingga meningkatkan martabat ODGJ.

Dari pendapat ODGJ mengungkapkan bahwa ada perubahan sikap keluarga dalam menjalin relasi dengannya, seperti yang dinyatakan dalam wawancara:

”Akhir-akhir ini ,,memang agak berubah terutama adikku….dia selama ini seperti marahnya tak terampuni…marah dan disalahkan terus…kemudian berubah agak jarang marah,,galak tetapi kalau ketemu di kampus sudah mau menyapa..karena dulu kalau ketemu di kampus cuek..kaya gak peduli gitu lho. Sekarang sepertinya sudah seperti mengakui kalau saya saudara…sebenarnya saya dicuekin adik saya ya gak pa..pa….karena saya memang salah. Tetapi kalau dia yang menyapa di kampus ..rasanya beda, seperti saya memang dianggap kakaknya..dianggap keluarga”

Dari data yang didapat ungkapan pasien, menunjukkan bahwa pasien sebenarnya merasa mempunyai nilai lebih saat diluar lingkungan keluarga, ada yang mengakui saudara. Lebih lanjut diungkapan:

Ya..kalau di luar dikenal punya keluarga..apalagi adik sendiri ya…bahagia gitu. Ada perasaan berbeda..bentuknya..seperti percaya diri, lebih percaya diri dan senenglah..seneng..gimana ya..Pokoknya menjadi punya keluarga, menjadi seperti orang lain yang normal. Apalagi adik saya selama ini seperti memusuhi saya”.

Data diatas menunjukkan bahwa pendidikan keluarga tidak hanya memberikan pengetahuan yang bermanfaat namun juga berdampak pada sebuah perubahan yang lebih luas yakni merubah relasi. Dari ungkapan ODGJ yang menyatakan seperti orang pada umumnya adalah sebuah kenyataan bahwa pendidikan keluarga sangat bermanfaat bagi ODGJ , keluarga dan harapannya juga berdampak pada lingkungan yang lebih luas.

Sedangkan dari peserta kedua menyatakan:

Saya merasa punya teman dan sahabat untuk berbagi saat mengikuti pendidikan. Saya juga menirukan cara pemberi materi dalam berkomunikasi..misalnya saat muncul pikiran yang aneh-aneh..terus menyuruh minum obat. Pengetahuan saya juga saya sampaikan kepada suami saya, biar suami saya juga tahu dan ikut belajar”

Saat ODGJ (anak peserta ke 2) ditanya bagaimana sikap ibu dan keluarga dalam merawat dirinya, ODGJ menyatakan:

Biasa saja,,,ya biasa saja..tidak tahu gimana..tetapi saya merasakan ibu banyak menyuruh saya berkegiatan, keluar rumah dan bergaul dengan teman. Ibu juga sering membantu saya menginagat-ingat obat yang saya minum…biasa gitu. Saya tidak boleh di rumah terus,,di suruh keluar biar fres.Kadang juga disuruh latihan music karena saya bisa gitar”

Data menunjukkan bahwa sesungguhnya pendidikan kelurga bermanfaat dengan pola snow ball. Kesempatan pendidikan yang diberikan pada salah satu anggota keluarga bisa diberikan kepada anggota keluarga yang lain sehingga diharapkan dapat bermuara pada terkikisnya stigma dan meningkatnya kemampuan keluarga dalam menghargai ODGJ.

Kekurangan dalam pelaksanaan pendidikan keluarga ini adalah, 1) penyusunan materi belum dilakukan uji coba karena sela waktu antara pemetaan masalah dan kebutuhan keluarga dalam merawat ODGJ di rumah dengan pelaksanaan pelatihan durasi hanya 1 minggu. Hal ini menjadi hambatan tim penyusun materi untuk berkolaborasi secara maksimal. 2) Pemilihan peserta yang bersumber dari berbagai wilayah kabupaten dan kota menghambat proses pelaksanaan karena kehadiran antar peserta kabupaten kota berjarak sehingga banyak terbuang . 3) Pemilihan puskesmas yang beragam berdampak pada pemahaman antar petugas sebagai koordinator program yang beragam pula. Hal ini menjadikan proses kesepakatan belajar terhambat. 4) Tindak lanjut (pembentuk SHG, kelompok keluarga) akan lebih mudah jika peserta berasal dari puskesmas yang sama.

Kesimpulan.

            Dilatarbelakangi kondisi tingginya beban psikologis, sosial dan ekonomi serta fisik bagi keluarga sangat berdampak pada buruknya sikap keluarga terhadap ODGJ. Dengan demikian, ODGJ menjadi terabaikan hak-haknya termasuk hak untuk dirawat dengan tepat dan diberikan keleluasaan untuk mengembalikan fungsi-fungsinya sebagai manusia secara optimal.

            Pendidikan keluarga yang dilaksanakan oleh Instalasi Keswamas RSJ Grhasia DIY, dilakukan dengan tahapan dimulai dari pra sesi sampai monitoring evaluasi.Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendidikan keluarga sangat bermanfaat bagi care giver, harapannnya berdampak dalam perlindungan hak-hak pasien.

            Dalam pelaksanaan kegiatan, ada beberapa hal yang perlu disempunakan salah satunya penyempurnaan bahan belajar dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yakni pengambil kebijakan guna pendanaan, kerjasama dengan pemberi layanan di tingkat primer.

Kepustakaan

  • Ishina, K (2008) The Influence of Social Support, Social Stigma, and medication Compliiance on Suicidal Ideation in Induviduals Diagnosed with Schizophrenia. Retrieved from http://www.sjsu.edu/socialwoerk/docs/1_240WA3_Example.doc.
  • KPSI simpul yogyakarta (2011) Modul Psikoedukasi
  • Laporan Kegiatan Keswamas Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY Tahun 2015
  • Minas, H dan Diatri,H. (2008). Pasung: Physical restraint and confinement of the mentally ill in the community. International Journal of Mental Health System 2008, 2: 8
  • Tyas, T.
By Admin| 09 Januari 2016| PENGUMUMAN | Dilihat = 538 kali|